Pagi itu seekor kucing oren sedang berjalan dengan riangnya
menyusuri sudut desa. Desa dengan luas 8.000 m2 yang menjadi area bermainnya
selama kurang lebih 2 tahun umur hidupnya. Badannya gempal, kumisnya panjang,
dan langkahnya selalu penuh percaya diri seolah-olah dialah kepala desa yang
sebenarnya.
Setiap pagi, Oren berkeliling desa sambil
menggoyang-goyangkan ekornya. Sebenarnya bukan karena dia rajin, tapi karena
dia suka mencuri makanan dari rumah warga. Kalau ada ikan asin yang dijemur dan
hilang, itu pasti Oren. Kalau ada ayam goreng di meja dan lenyap, itu pasti
Oren. Kalau ada bau rendang disebuah rumah, pasti ada Oren di bawah meja.
Karena kegemarannya berkeliaran dan mencuri makanan, Oren
tahu semua rahasia warga desa. Tidak ada yang bisa sembunyi dari kucing oren
ini, bahkan aib tetangga pun bisa diketahui hanya dengan mengendus pintu.
Suatu hari, Oren mendengar sebuah rahasia besar. Di rumah
Pak Karta, ada keributan. Pak Karta kehilangan sejumlah uang yang ia simpan di
bawah kasurnya. Rafi, entah darimana, nama itu yang pada akhirnya menjadi
tertuduh. Rafi merupakan anak tetangga yang sering datang ke rumah Pak Karta
untuk bermain dengan anak Pak Karta, si Hadi. Padahal Oren tahu betul siapa
pencurinya.
Saat kejadian, Oren sedang duduk manis di jendela, mengintip
sambil menikmati sepotong ayam goreng curian. Ia melihat dengan jelas bahwa yang
mengambil uang itu adalah anak Pak Karta sendiri, si Hadi yang kebetulan juga
teman dekat Rafi.
Hadi tidak menceritakan kebenarannya karena ia takut dimarahi.
Orang tua Hadi hanya menebak-nebak hingga sampai pada kesimpulan menyalahkan
Rafi, karena Rafi sering bermain ke rumah Hadi. Hadi kasihan kepada Rafi tapi
dia juga tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya.
Lalu gosip pun menyebar ke tetangga kampung. “Kasihan ya,
Rafi itu ternyata pencuri…” begitu bisik para ibu-ibu sambil membeli sayur di
Paklek keliling. Sementara itu, Rafi yang pada awalnya tidak tahu apa-apa,
masih sering bermain ke rumah Hadi seperti biasa. Namun sikap orang tua Hadi
agak berbeda dan dia menyadarinya. Tak lama kemudian, Rafi pun mendengar kabar
tentang tuduhan tak mengenakan tersebut. Dirinya difitnah dan ia merasa sakit
hati. Ia tak berani lagi main ke rumah Hadi. “Aku nggak nyuri… kenapa malah aku
yang disalahkan…” keluhnya sedih.
Di balik semak, Si Oren yang mendengar semuanya tertawa
cekikikan.
“Hehehe… manusia memang lucu,” pikirnya. “Anak yang nyuri diem aja, anak yang
nggak nyuri malah dimarahin.”
Tapi setelah tertawa, Oren juga merasa kasihan. Ia
menggedipkan mata sambil mengelus kumisnya, “Kasihan juga si Rafi… padahal dia
baik. Andai manusia bisa bahasa kucing, pasti aku sudah jadi saksi ahli!”
Sayangnya, tidak ada yang mengerti bahasa kucing. Akhirnya
Oren cuma bisa duduk di atas pagar, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil
berkata dalam hati:
“Di desa 8.000 meter persegi ini, cuma aku yang tahu segalanya,
salah satunya yaa ayam goreng yang kumakan tadi.”
Lalu ia berlari pergi, mencari rahasia baru… atau makanan baru. Biasanya sih yang kedua.

0 komentar:
Posting Komentar